Konferensi Virtual Internasional

“Perempuan dalam Film dan Perfilman Indonesia”

By

KAFEIN

Supported by

UNESCO & From The People of Japan

In coordination with

Badan Perfilman Indonesia
Official Publication
Tentang Konferensi

Konferensi virtual ini merupakan bagian dari diseminasi dan konsultasi pemangku kepentingan dalam proyek Pengumpulan Data Gender-Terpilah dalam Industri Film Indonesia. Pengumpulan data ini melibatkan KAFEIN (Asosiasi Pengkaji Film Indonesia) untuk melakukan penelitian dan UNESCO – Japanese Funds-in-Trust sebagai bagian dari usaha mendukung keberagaman ekspresi budaya dalam industri film Asia Tenggara, dibantu Badan Perfilman Indonesia (BPI) dalam berkordinasi dengan para pemangku kepentingan perfilman. Makalah-makalah dalam konferensi disajikan dalam bentuk video, yang akan dibuka hingga 31 Agustus 2020. Makalah-makalah akan diterbitkan dalam jurnal Women’s Arm.

Tema “Perempuan dalam Film dan Perfilman Indonesia” ini dipilih untuk melihat keseimbangan kesempatan bagi pembuat film perempuan dan akibat keseimbangan itu pada karya-karya film yang dihasilkan. Sekilas, perfilman Indonesia terlihat ramah gender: produser-produser perempuan berkibar dan menjadi orang-orang yang mempengaruhi opini publik, tapi dalam angka statistik, jumlah pembuat film perempuan dan karya mereka tidak sebanding dengan pembuat film dan film karya laki-laki. Hal lain adalah kepercayaan diri isi film yang ramah perempuan dibentuk oleh para kreator film perempuan dan ini menunjukkan tren yang lebih baik akan kesetaraan gender. Namun apakah memang seperti itu kenyataan di lapangan? Seberapa besar otoritas pembuat film perempuan? Seberapa besar kesempatan perempuan untuk memegang posisi-posisi penting seperti sutradara, produser, dan penulis naskah, penata kamera, suara, artistik, atau editor? Bagaimana kesempatan perempuan untuk mendapat dukungan berupa penghargaan, investasi dan funding, atau beasiswa film? Bagaimana kemungkinan-kemungkinan dan kesempatan yang terbuka di sekolah film? Bagaimana perbedaan kesempatan di sekolah dan di dunia kerja? Apakah kesempatan bagi dosen film sudah setara untuk semua gender? Proyek ini fokus pada memahami perkembangan film dan perfilman yang melibatkan perempuan di Indonesia.

Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai pada konferensi virtual ini, antara lain :

  1. Menghimpun temuan-temuan dan pemikiran yang sudah ada terkait film dan perfilman Indonesia serta relasinya dengan gender.
  2. Menciptakan diseminasi lewat ruang diskusi jangka panjang yang terdokumentasi dan terintegrasi secara virtual antar peneliti tentang perempuan dalam film dan perfilman.
  3. Membentuk basis data awal terkait data gender-terpilah dari industri film Indonesia.
  4. Menyusun rekomendasi pengembangan kebijakan, data, strategi pengumpulan data dan analisis lanjutan bagi proyek ini.

Konferensi ini masih terbuka untuk abstrak baru hingga akhir Juli 2020.

Sazkia Noor Anggraini M.Sn.
Tito Imanda PhD

Lanjut baca
Alur Konferensi Virtual

KAFEIN telah mengembangkan draf pertama kerangka kerja dan metodologi untuk proyek ini. Draf pertama tersebut telah disebarkan kepada pengkaji dan aktivis film, dan akan menjadi bahasan utama dalam konferensi virtual. Konferensi ini mengundang beberapa pembicara untuk mempresentasikan hasil kajian dan penelitiannya lewat rekaman video terkait topik di atas, untuk memperkaya draf tersebut. Setiap pembicara juga diminta untuk saling menanggapi pembicara lain, dilakukan dalam bagian “diskusi” di website ini. Diskusi yang muncul akan memperkuat hasil penelitian serta rekomendasi yang dihasilkan. Selain memperkuat proyek penelitian KAFEIN, aspek rinci dan nuansa dari makalah-makalah akan diterbitkan dalam jurnal Women’s Arm (Women in Art and Media), diterbitkan oleh KAFEIN.

Lanjut baca
Persiapan
  • Mengirim abstrak, disetujui KAFEIN
  • Penulisan Makalah & Rekam Video
  • Mengirim Tulisan & Video ke KAFEIN
Pelaksanaan
  • Menonton video presentasi
  • Memberi masukan di kolom diskusi
  • Memberi masukan untuk KAFEIN
Jurnal
  • Seleksi & pengembangan makalah
  • Review & edit makalah
  • Penerbitan Jurnal
Panel-Panel
Pertemuan Kajian Jender dan Kajian Sinema di Indonesia

Panel Utama

Pertemuan kajian jender dan kajian sinema di Indonesia.
Masuk

Panel Karir

Menggali jalur dan tantangan karir pembuat film perempuan.
Masuk

Panel Sejarah

Menggali peran perempuan dalam sejarah perfilman Indonesia dan menggali sejarah film perempuan di Indonesia
Masuk

Panel Adaptasi

Eksplorasi representasi perempuan dalam proses perubahan bentuk film dari medium lain
Masuk
Informasi dan pertanyaan
UNESCO

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization
Organisation des Nations Unies pour l'éducation, la science et la culture

Greeting from UNESCO Jakarta!

Imagine a world where there is only one tune of music, one book to read or one movie to watch. It will be awfully a sad and dull place to be. Diverse cultural and artistic expressions constitute a fundamental strength of humanity that need to be cherished and promoted. It is with this credo that UNESCO member states adopted in 2005 a new Convention on the Protection and Promotion of the Diversity of Cultural Expressions. By ratifying this Convention, State-Parties, including Indonesia, agree to put in place conducive environment for the production and dissemination of, and access to, diversity of artistic and cultural expressions available through cultural goods and services.

Balanced and equitable representation of both men and women is one of the critical conditions of the diversity of cultural expression. There is no diversity, if one side of voice is missing from artistic creation. While the debate on gender mainstreaming has reached many areas of our society, cultural industry sector has remained rather slow in embracing the principle. Film is one such sector where acute gender-based disparity and abuse came to our attention in recent time. However, effective policy action has been often slow with ‘’lack of data and evidence” as an excuse.

This collaboration between UNESCO and KAFEIN therefore looks into the opportunity of developing a gender-disaggregated data collection framework to track whether men and women avail of equal and equitable opportunities in terms of access to training and education, employment, funding etc to develop their career within the film industry. Such data collection framework should serve as a basis to regularly monitor the trend in the sector, identify the policy lacunae and track the effectiveness of future government interventions.

UNESCO thanks full-heartedly the Indonesian film professionals and academics who join the debate through the active coordination of KAFEIN. Our sincere appreciate goes to the Government and people of Japan who support this initiative through UNESCO-Japan Funds-in-Trust. We hope this virtual forum will go a long way to support the emergence of dynamic artistic expressions from Indonesian film.

Shahbaz Khan, Director and UNESCO Representative for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines and Timor Leste

Shahbaz Khan
Director and UNESCO Representative for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines and Timor Leste