Panel Patriarki

Panel Patriarki dan Representasi Perempuan

Panel ini menggali apa yang terjadi ketika pembuat film laki-laki membuat film dengan karakter utama perempuan.

Navigasi Konten

Poligini dan Agensi Perempuan dalam Film-Film Islami Indonesia Kontemporer

Hariyadi
Pengajar dan peneliti di Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman.
Universitas Jenderal Soedirman
harryhariyadi@gmail.com
Banyak ahli telah melakukan studi pada film-film Islam di Indonesia. Namun, bagaimana masalah perempuan direpresentasikan dalam film-film Islam belum cukup dibahas oleh para sarjana. Artikel ini mengungkap bagaimana masalah perempuan direpresentasikan dalam film-film Islam kontemporer. Masalah poligini dipilih karena luasnya kontroversi mengenai masalah ini. Masalah agensi perempuan juga sangat penting untuk dipelajari sejak karena Islam terkadang dianggap mengecilkan peran perempuan. Dalam artikel ini, objek analisis saya adalah film Surga yang Tak Dirindukan, Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea dan Ketika Cinta Bertasbih. Dari analisis film, saya membongkar konten ideologis film. Dalam menganalisis film-film ini, saya meminjam literatur kajian film dan menggunakan gender sebagai perspektif saya. Namun, karena yang menjadi perhatian penelitian saya adalah ideologi film, saya memfokuskan analisis film pada elemen naratif mereka. Bagaimana pun, ada tanda-tanda agensi aktif dalam film-film Islam Indonesia meskipun ada juga beberapa batasan. Film-film ini juga menunjukkan bahwa praktik poligini sebagian besar tidak menyenangkan bagi perempuan. Para sutradara memunculkan perbedaan orientasi ideologis mereka yang menunjukkan bagaimana nilai dan kebudayaan dalam masyarakat tertentu menempatkan perempuan dalam bingkai mereka. Dengan demikian, film dapat digunakan untuk menantang kekuatan patriarki.
Lanjut baca
Play Video

Apakah Srintil menjadi Perempuan yang Berdaya?; Kajian Representasi Perempuan dalam Film “Sang Penari”

Mundi Rahayu
Peneliti dan pengajar Jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
mundi_rahayu@yahoo.com
Paper ini membahas bagaimana tokoh perempuan (Srintil) direpresentasikan dalam Film “Sang Penari” (Ifa Isfansyah, 2011). Perempuan dalam film popular penting untuk dicermati, karena film merupakan arena negosiasi ide dan praktik yang ada di sekitar kita sehari-hari. Terlebih, perempuan dalam dunia budaya popular selalu menjadi fokus penting untuk didiskusikan, di satu sisi perempuan mempunyai power di panggung budaya populer, di sisi lain ada pertanyaan tentang power yang dimiliki oleh perempuan dalam panggung budaya populer. Secara spesifik, pertanyaan dalam makalah ini adalah, “Apakah Srintil sebagai seorang ronggeng ditampilkan secara berdaya atau tidak dalam film Sang Penari, dan seberapa berdaya-kah Srintil sebagai seorang ronggeng di film ini berhadapan dengan berbagai pihak dalam lingkup masyarakat yang masih patriarkis?” Keberdayaan atau agensi perempuan merupakan kunci untuk melihat representasi perempuan. Dalam pembahasan film ini bisa diketahui bahwa agensi Srintil mengalami dinamika, ada beberapa poin yang menunjukkan Srintil mempunyai agensi yang kuat sebagai seorang ronggeng, namun dalam banyak hal, Srintil kehilangan agensinya.

Kata kunci: ronggeng, Sang Penari, agensi perempuan, power, resistensi
Lanjut baca
Play Video

Ayah yang Hilang, Protagonis Perempuan dan Ibu Arkaik di Film Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam dari Joko Anwar

Nosa Nurmanda
Pengajar film, pegiat audio visual di Yayasan Mondiblanc.
Universitas Indonesia
nosanormanda@mondiblanc.org
Makalah ini akan berbicara tentang ketidakhadiran bapak, protagonis perempuan dan ibu arkaik dalam dua film horor Joko Anwar, yaitu Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam. Diskusinya akan berargumen bahwa kedua film ini penting dalam melihat perubahan dalam narasi dan industri film Indonesia yang mengikuti gerakan perempuan global, tempat protagonis perempuan dan ibu antagonis arkaik memainkan peran dalam menciptakan film yang bebas dari Patriarki Orde Baru Indonesia. dan narasi hetero-normativitas di tengah fakta bahwa jejak-jejak Orde Baru masih ditemukan dalam film-film horor lainnya dengan tema yang sama. Makalah ini menyimpulkan bahwa kolaborasi produser, kru dan aktor wanita bersama dengan sutradara pria progresif, membuka pintu bagi film yang sukses secara komersial dan kritis.
Lanjut baca
Play Video

Diskusi

Kolom diskusi hanya untuk peserta konferensi. Silahkan login atau daftar terlebih dahulu.
Login Peserta

1 Response

  1. Kami mengundang rekan-rekan sekalian untuk berdiskusi dalam panel ini. Diskusi dapat diajukan dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan, baik kepada para panelis, maupun kepada KAFEIN selaku peneliti dalam proyek Pengumpulan Data Jender Terpilah. Silakan tulis nama pembicara tertentu dalam panel ini untuk menanggapi. Kami juga berharap, para rekan untuk dapat memberikan rekomendasi terkait arah riset dan kebijakan dalam tema ini.

    We invite colleagues to discuss in this panel. We welcome any questions and comments, both to panelists and to KAFEIN as a researcher in Gender-Disaggregated Data of the Indonesian Film Industry. Please write the name of a particular speaker in this panel to respond if needed.We also expect for policy recommendation and action plan related to this research.

Tinggalkan Balasan

Panel Lainnya
Panel Adaptasi
Eksplorasi representasi perempuan dalam proses perubahan bentuk film dari medium lain
Panel Utama
Pertemuan kajian jender dan kajian sinema di Indonesia.