Panel Sejarah

Menggali peran perempuan dalam sejarah perfilman Indonesia dan menggali sejarah film perempuan di Indonesia

Navigasi Konten

Pembuat Film Perempuan Indonesia – Begitu Banyak Lagi yang Harus Dilakukan!

Yvonne Michalik

Presentasi dan makalah ini memberikan gambaran singkat mengenai pembuat film perempuan Indonesia sejak awalnya hingga saat ini.
Lanjut baca
Putar Video

Lisa, Sebuah Film Anomali dari Masa Sebelum Masa 'Ibuisme Negara'

Ekky Imanjaya

Perspektif arus utama mengenai masalah gender, baik dalam karya-karya populer dan ilmiah, menggarisbawahi bahwa umumnya film dalam Orde Baru Indonesia (1966-1998) menerapkan teori Ibusime Negara. Di dalam dan di luar layar, perempuan dipinggirkan dan direpresentasikan sebagai lemah, diam, negatif, ibu rumah tangga, dan domestik. Teori Ibuisme Negara dikemukakan oleh Julia Suryakusuma, dirumuskan berdasarkan program PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), “azas kekeluargaan” (Prinsip Keluarga), amd dan Dharma Wanita (organisasi resmi untuk istri pegawai negeri sipil), yang secara resmi dikeluarkan pada tahun 1978. Teori ini menyoroti upaya resmi domistifikasi wanita Indonesia selama era Orde Baru.
Namun, Lisa (M Syariefuddin A, 1971), diproduksi 7 tahun sebelum program, adalah anomali. Saya berpendapat bahwa film ini dapat dibaca sebagai jendela peluang untuk menghasilkan budaya film progresif. Saya akan menjelaskan betapa berbedanya film ini dengan teori Ibuism Negara dengan melakukan analisis tekstual atau pembacaan film dari dekat. Dan saya akan menjawab mengapa itu berbeda dengan melakukan pendekatan Sejarah Sinema Baru dan menyoroti paradoks kebijakan Orde Baru.
Lanjut baca
Putar Video

Sundel Bolong (1981) dan Apa Yang Ingin Dilanggengkan

Shalfia Fala Pratika

Tulisan berjudul Sundel Bolong (1981) dan Apa Yang Ingin Dilanggengkan dilatarbelakangi oleh ketertarikan saya pada bidang film khususnya horor dan isu feminisme. Film horror saya rasa apabila dikaji lebih jauh dapat memperlihatkan alam bawah sadar sebuah masyarakat yang dibangun oleh sistem yang mendominasi. Film yang akan diteliti adalah film karya Sisworo Gautama Putra yaitu Sundel Bolong yang saya rasa dapat menggambarkan ketidakadilan gender pada masa orde baru. Dengan perspektif monstrous feminine Barbara Creed saya mencoba untuk mengkaji lagi film tersebut dengan dua garis besar yaitu sundel bolong sebagai korban kastrasi dan pengkastrasi. Penggambaran perempuan sebagai keduanya tersebut dibangun oleh budaya patriarki yang kuat. Dalam film tersebut konflik ketidakadilan gender yang ada pada tokoh Alisa digambarkan pada hampir setiap aspek kehidupannya. Oleh karenanya tulisan ini berusaha untuk memaparkan keterkaitan antara sundel bolong sebagai korban dan pelaku kastrasi dari apa yang ada dalam layar saat kita menonton film Sundel Bolong karya Sisworo Gautama Putra ini.

Kata kunci: Film Sundel Bolong, kastrasi, abjek, patriarki, monstrous feminine
Lanjut baca
Putar Video

Diskusi

Kolom diskusi hanya untuk peserta konferensi. Silahkan login terlebih dahulu.
Login Peserta
Panel Lainnya
Panel Adaptasi

Eksplorasi representasi perempuan dalam proses perubahan bentuk film dari medium lain

Panel Karir

Menggali jalur dan tantangan karir pembuat film perempuan.

Login