Pertemuan Kajian Jender dan Kajian Sinema di Indonesia

Panel Utama

Pertemuan kajian jender dan kajian sinema di Indonesia.

Navigasi Konten

Memetakan Perempuan dalam Kajian Sinema Indonesia: Antara Representasi yang Digugat dan Agensi yang Dipertanyakan

Novi Kurnia
Staf pengajar Departemen Komunikasi, peneliti, penulis, tinggal di Yogyakarta.
Universitas Gadjah Mada
novikurnia@ugm.ac.id
Paper ini mendiskusikan perempuan dalam kajian sinema Indonesia dalam empat pokok pembahasan. Pertama, memberikan pengantar tentang arti penting perempuan sebagai obyek dan subyek kajian sinema Indonesia. Kedua menjelaskan pemetaan kajian representasi perempuan dalam sinema Indonesia. Ketiga memaparkan pemetaan kajian pekerja film perempuan. Keempat memberikan simpulan paparan sekaligus catatan terhadap proyek data-terpilah dalam industri film Indonesia yang dilakukan oleh Kafein, Asosiasi Pengkaji Film Indonesia. Kajian ini juga mencatat hal-hal yang harus dilakukan, untuk dikerjakan di masa depan. Gugatan kajian terhadap representasi perempuan sebaiknya juga dihubungkan dengan identitas lainnya yang sering melekat pada perempuan, etnis, suku, agama, kelas sosial, difabel dan preferensi seksual. Pertanyaan tentang agensi pekerja film perempuan tak hanya dialamatkan pada mereka yang menjadi sutradara tapi juga pekerja film lainnya. Jejaring antar pekerja film perempuan baik di level nasional maupun internasional juga layak dijadikan kajian tersendiri dalam melihat agensi mereka dalam mendukung satu sama lain. Selain itu, pendekatan historis patut digunakan untuk menggali kisah pekerja film perempuan.

Kata kunci: perempuan, sinema Indonesia, representasi, agensi
Lanjut baca
Play Video

Berinvestasi pada Masa Depan: Pengarusutamaan Gender dalam Pendidikan Film di Indonesia

Evi Eliyanah
Staf pengajar Departemen Sastra Inggris, aktivis, penulis, tinggal di Malang
Universitas Negeri Malang
evi.eliyanah.fs@um.ac.id
Presentasi saya mengeksplorasi apa yang bisa lebih banyak kita lakukan dalam mencapai kesetaraan gender di perfilman Indonesia. Sementara mengakui kemajuan dalam hal-hal yang mempromosikan partisipasi aktif perempuan dalam sinema Indonesia, terutama di belakang layar, kita harus mengakui bahwa indikator kuantitatif semacam itu tidak cukup. Meskipun penting, meningkatnya jumlah perempuan di posisi-posisi kunci di belakang layar tidak secara otomatis berarti adanya representasi gender yang setara dan non-diskriminatif di film produknya, atau ke industri film yang lebih inklusif dan aman gender. Saya akan menyoroti bahwa kita perlu mengarusutamakan perspektif gender di setiap tingkatan industri untuk mencapai kesetaraan gender di bioskop Indonesia. Dengan melakukan itu, saya mengusulkan agar kita melakukan upaya yang lebih terpadu dalam memastikan perspektif gender diarus-utamakan dalam pendidikan film, baik formal maupun informal. Dengan melakukan itu, kami berinvestasi pada pembuat film perempuan dan laki-laki masa depan demi film Indonesia yang setara gender dan inklusif.

Kata kunci: pengarusutamaan gender, sinema Indonesia, pendidikan film, kesetaraan gender
Lanjut baca
Play Video

Mengubah Kesadaran Kolektif yang Mewajarkan Pelecehan: Riset Pelecehan Seksual di Kalangan Pekerja Film Perempuan Indonesia

Caroline J. Monteiro
Penulis, aktivis feminis, penerbit dan produser, tinggal di Jakarta
Arts for Women
olinwork2017@gmail.com
Tidak mudah memang mencoba mengubah suatu masyarakat yang patriarki dan kadang represif, seperti soal film dan kekerasan seksual. Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa pelecehan seksual banyak terjadi di industri film, masalahnya tidak semua mau bersuara. Hal ini karena latar budaya patriarki, norma yang tabu terhadap isu seksualitas, juga pendidikan dalam masyarakat yang masih sangat kurang. Makalah ini memetakan berbagai pelecehan seksual dan kekerasan seksual di pekerja film industri maupun komunitas film dari survey dan wawancara yang dilakukan oleh penulis. Tentu saja riset ini ingin mencari akar masalah dan dampak lengkap dengan situasi penyelesaian masalah yang harus dihadapi oleh pekerja film dalam perspektif gender. Akan ada begitu banyak proses yang harus dilalui, bagaimana pemulihan korban menjadi lebih utama dalam makalah ini. Pendekatan riset dan kajian feminisme memang menempuh jalan yang lebih panjang untuk mencari moda yang tepat bagaimana mengantisipasi isu ini. Diperlukan juga perubahan pola pikir dan sistem yang mendukung untuk orang berani bersuara. Suatu proses menuju perubahan yang tidak mudah. Diharapkan makalah ini bisa menjadi diskusi awal dan menjadi acuan munculnya kepedulian masyarakat soal isu kekerasan seksual yang lebih luas di dunia seni.
Lanjut baca
Play Video

Kajian Data Gender-Terpilah: Laporan Pertama

Sazkia Noor Anggraini
Staf pengajar Departemen Televisi dan Film, peneliti dan programmer film, tinggal di Yogyakarta
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
sazkia.na@gmail.com
Kajian data ini merupakan sebuah usaha untuk membangun database Industri film Indonesia untuk kebijakan dan pengambilan keputusan yang mengutamakan kesetaraan gender. Data-data yang diambil tersedia dari sumber sekunder, yakni situs dan katalog berdomain publik milik organisasi film, sekolah film, festival, dan organisasi profesi perfilman. Semua data akan dipilah berdasarkan gender. Pemilahan gender dilakukan dengan menentukan tiga kerangka kerja, yakni perbedaan jenis kelamin, akses dan perubahannya dari waktu ke waktu. Kajian ini akan mengidentifikasi masalah potensial dan kemudian memutuskan indikator data untuk menghubungkan data yang tersedia dengan masalah kesenjangan gender. Adapun permasalahan yang telah kami rumuskan antara lain; keberadaan perempuan, perubahan statistik posisi perempuan dalam produksi film, kesetaraan upah, tingkat pendidikan, kesetaraan gender dalam cerita film, sekolah film, dan kesempatan peningkatan pendidikan/profesional. Nantinya, kajian ini dapat memberi gambaran persentase perempuan dalam setiap profesi dari tahun ke tahun dengan kategori; film panjang, film pendek, film tugas akhir perkuliahan, dan film dokumenter. Semua kategori disajikan dalam bentuk grafik per kategori profesi, baik jumlah perempuan total, jumlah film total, dan perbandingan jumlah perempuan dan laki-laki. Pada tahap selanjutnya juga akan dilihat bagaimana akses perempuan terhadap penghargaan, kesempatan pendanaan, beasiswa dan pelatihan lainnya.

Kata Kunci : metodologi, kerangka kerja, data gender terpilah.
Lanjut baca
Play Video

Perempuan adalah Pembuat Film yang Lebih Baik: Sebuah Retrospeksi Produser

Chand Parwez Servia
Ketua Badan Perfilman Indonesia, Ketua Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI), produser di Starvision
Badan Perfilman Indonesia (BPI)
starvisionplus@yahoo.com
Perempuan adalah pembuat film yang lebih baik menurut saya. Untuk beberapa genre, perempuan mempunyai kedalaman yang lebih daripada pria dalam memvisualisasikan atau mengekspresikan karya audio visual. Saya mengalami beberapa kali bekerja sama dengan perempuan, dan dari mulai pembuatan ide cerita ataupun naskah yang ditulis oleh perempuan biasanya mempunyai kedalaman akan hal-hal yang kadang-kadang bisa luput dari perhatian pria. Menurut saya, perempuan itu lebih detail, lebih teliti, dan hal yang menurut pria itu adalah hal sepele, bagi perempuan bisa menjadi sesuatu yang lebih perlu diperhatikan dan harus digarap secara intensif. Karena itu film-film mereka memiliki rasa yang lebih dalam lagi. Film menyangkut masalah rasa, dan walau mungkin untuk genre tertentu pria lebih cocok, tapi untuk banyak genre, saya merasa bahwa perempuan memang adalah pembuat film yang lebih baik. Padahal, kalau kita lihat di industri perfilman di dunia, pembuat film pria memang lebih banyak jumlahnya. Aktor pria pun diapresiasi dengan gaji atau harga yang lebih tinggi daripada perempuan. Padahal, kita harus sadari, bahwa seorang perempuan bisa memberikan karya secara lebih utuh, secara lebih mendalam, dan menawarkan perasaan yang lebih beragam terhadap karya film yang dibuat.
Lanjut baca
Play Video

Diskusi

Kolom diskusi hanya untuk peserta konferensi. Silahkan login atau daftar terlebih dahulu.
Login Peserta

1 Response

  1. Kami mengundang rekan-rekan sekalian untuk berdiskusi dalam panel ini. Diskusi dapat diajukan dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan, baik kepada para panelis, maupun kepada KAFEIN selaku peneliti dalam proyek Pengumpulan Data Jender Terpilah. Silakan tulis nama pembicara tertentu dalam panel ini untuk menanggapi. Kami juga berharap, para rekan untuk dapat memberikan rekomendasi terkait arah riset dan kebijakan dalam tema ini.

    We invite colleagues to discuss in this panel. We welcome for any questions and comments, both to panelists and to KAFEIN as a researcher in Gender-Disaggregated Data of the Indonesian Film Industry. Please write the name of a particular speaker in this panel to respond, if needed. We also expect for policy recommendation and action plan related to this research.

Tinggalkan Balasan

Panel Lainnya
Panel Karir
Menggali jalur dan tantangan karir pembuat film perempuan.
Panel Adaptasi
Eksplorasi representasi perempuan dalam proses perubahan bentuk film dari medium lain