Menuju Perfilman Indonesia yang Setara dan Inklusif
dengan undangan terbatas
- Senin, 13 Desember 2021
- 15.00 — 18.00 WIB (GMT+7)
- Ruang Ekraf. Jl. Parangtritis No. 103 Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta
terbuka untuk publik
- Senin, 13 Desember 2021
- 15.00 — 18.00 WIB (GMT+7)
- Zoom Meeting ID: 921 0396 7192
- Passcode: KAFEIN
- Unduhan:
- Rilisan Pers
- TOR
Rangkaian proyek ini pada dasarnya bertujuan untuk mendorong perfilman yang setara dan inklusif di Indonesia. Proyek pada tahun 2020 telah menghasilkan data terpilah-gender dari industri film Indonesia dan serangkaian rencana aksi yang akan ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan terpilih. Proyek pada tahun 2021 ini bertujuan untuk menindaklanjuti dua poin dalam rencana aksi tersebut untuk mengembangkan dan mendukung perfilman yang responsif GIS (Gender and Inklusi Sosial). Proyek terakhir ini telah sampai pada tahap akhir penyusunan panduan kurikulum pendidikan tinggi film responsif GIS dan silabus pelatihan pembuatan film responsif GIS untuk komunitas film.
Peluncuran buku hasil penelitian pengumpulan data terpilah-gender
Kepala peneliti, Sazkia Noor Anggraini, S.Sn., M.Sn dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta akan mempresentasikan temuan kunci terkait jumlah perempuan di industri film Indonesia, perguruan tinggi film, festival film, dan asosiasi profesi film. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa rekomendasi rencana aksi yang akan dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan film dan aktor kunci. Buku hasil penelitian dengan judul “Menuju Kesetaraan Gender Perfilman Indonesia : Analisis Data Terpilah-Gender dan Rekomendasi Rencana Aksi” akan dapat diakses secara digital di sini.
Talkshow “Kurikulum dan Pelatihan Film Responsif Gender dan Inklusi Sosial”
Talk show terkait panduan kurikulum responsif GIS ini menargetkan perguruan tinggi film dan modul pelatihan responsif GIS ini menargetkan komunitas film dan profesional untuk mencapai lingkungan perfilman yang sensitif gender dan inklusif. Ketua Tim Ahli, Dr. Evi Eliyanah, pakar Studi Gender dan Studi Budaya dari Universitas Negeri Malang dan Panji Wibowo, seorang pembuat film dan pendidik film, akan berbagi tujuan dan struktur buku panduan kurikulum dan modul pelatihan yang mereka susun. Talk show ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pada kedua institusi tersebut untuk menerapkan perspektif gender dan inklusi sosial menuju kesetaraan dalam perfilman Indonesia. Pada tahun berikutnya, sekelompok pendidikan tinggi film, komunitas film, dan profesional film yang ditargetkan akan dipandu untuk mengadopsi panduan kurikulum dan modul pelatihan responsif GIS melalui beberapa pilot dan lokakarya. Talk show ini juga mengajak stakeholder terkait dan publik yang peduli dengan isu kesetaraan untuk terlibat dalam inisiasi ini.