Dalam dua dekade terakhir, industri film Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat. Hal ini ditandai dengan peningkatan signifikan dalam jumlah produksi film serta jumlah penonton, yang mengantarkan sinema Indonesia ke posisi unggul di kawasan Asia Tenggara. Bahkan ketika pandemi Covid-19 melanda dan membatasi berbagai aktivitas sosial, industri ini tidak berhenti berkembang. Justru, situasi katastropik tersebut menjadi titik balik bagi percepatan transformasi digital dalam ekosistem sinema nasional. Ketika bioskop tutup dan interaksi fisik dibatasi, masyarakat beralih mengakses film melalui berbagai platform digital, yang secara langsung mendorong pertumbuhan sinema digital.
“Pasca pandemi, sinema digital di Indonesia terus berkembang secara dinamis. Digitalisasi besar-besaran terjadi di seluruh aspek, mulai dari pra-produksi, produksi, distribusi, promosi, hingga pengalaman menonton”.
Proses kreatif film kini melibatkan format visual mutakhir seperti 8K, HDR, LED Volume, CGI hiper-realistik, serta pemanfaatan VFX dan AI dalam penyusunan skenario hingga pascaproduksi yang terintegrasi dengan sistem cloud. Cerita-cerita film pun banyak diadaptasi dari konten berseri di media sosial atau dikembangkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, ekspansi distribusi digital menjangkau audiens lintas negara dan memperluas pasar film Indonesia secara global. Pengalaman menonton juga semakin berkembang dengan hadirnya teknologi imersif seperti Virtual Reality (VR).
Transformasi digital dalam sinema membuka ruang kajian baru dalam estetika dan industri. Di ranah estetika, produksi digital menciptakan narasi yang lahir dari budaya gim dan media sosial. Visual dan audio dapat dimodifikasi dengan tingkat presisi yang belum pernah ada sebelumnya. Hal ini menghasilkan bentuk ekspresi yang berbeda dari sinema konvensional. Di sisi industri, digitalisasi mengubah pola investasi, jenis pekerjaan, dan kebutuhan infrastruktur. Biaya teknologi yang tinggi sering menekan posisi tenaga kerja. Sementara itu, kebijakan digital belum sepenuhnya siap. Penonton kini menghadapi ledakan konten, meskipun variasinya terbatas. Semua hal ini perlu dikaji oleh peneliti film agar lahir pengetahuan yang berguna bagi pelaku industri, institusi pendidikan, dan masyarakat.
Perkumpulan KAFEIN sebagai organisasi profesi pengkaji film Indonesia mengundang pengkaji, akademisi, peneliti, dan mahasiswa perfilman Indonesia dan/atau subjek studi yang relevan dengan film dan perfilman untuk mengikuti Konferensi Film Indonesia #4 yang bertajuk: “Sinema Indonesia dalam Lanskap Digital.“